<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>BLOG Paimpuluan Ne TONSEA</title>
	<atom:link href="http://tonsea.blog.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://tonsea.blog.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 01:53:45 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title></title>
		<link>http://tonsea.blog.com/2008/07/27/</link>
		<comments>http://tonsea.blog.com/2008/07/27/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Jul 2008 01:53:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>PNT</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[<table border="0" cellpadding="0" width="14">
<tbody>
<tr>
<td width="69%"><!--[if gte vml 1]>
                        <![endif]--><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" height="4" width="5" /><br />
<br /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="468">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><font size="4"><b>Seminar Seni Budaya Minut di Era Globalisasi<br />
"Kembalikan Semangat dan Jati Diri Tonsea"</b></font><br />
<br /></td>
</tr>
</tbody>
</table>
Dikutip dari <a href="http://www.mdopost.com/">mdopost.com</a> (ino) - 19 April 2008.<br />
<br />
PELESTARIAN seni dan bu-daya dalam menampilkan jati diri Minahasa Utara (Minut) untuk menunjang program pemerin-tah, dikupas habis dalam semi-nar dan seni budaya Minut yang diselenggarakan di Eden Hall Manado Internasional School (MIS) Jumat (18/04) kemarin.<br />
Acara yang didukung sepe-nuhnya oleh Ketua Dewan Pem-bina Kebudayaan Nasional Yu-lisa Baramuli SH ini, menampil-kan para pembicara yang juga merupakan tokoh di Minut se-perti Dra Y.E.A Rompas Awuy MA, Drs Hengky Lengkong MSc dan Benny Matindas yang me-ngambil tema dalam seminar yakni ‘Seni dan Budaya Minut di Era Globalisasi'. Hadir juga Ka-dis Pariwisata dan Kebudayaan Minut Rita Rumokoy mewakili Pemkab Minut.<br />
Dalam paparan para pembi-cara, intinya mengajak dan mengingatkan pada para peserta, bagaimana merajut kembali se-mangat dan jati diri Tou Minahasa "Tonsea", strategi kebudayaan dalam pembangunan daerah Minut di era globalisme serta ten-tang pewarisan dan pembinaan kebudayaan Mapalus di Minut bisa ditampilkan dengan nilai luhur budaya untuk menunjang pro-gram pemerintah di era globali-sasi. Dimana sekarang ini kebu-dayaan hanya dinilai dan diper-lakukan kurang memadai, maka hal ini akan mengancam keutuhan bangsa dan daerah. Kita menya-dari, betapa mahalnya harga yang harus dibayar jika kita alpa mem-bangun kebudayaan yang me-rupakan jati diri bangsa.<br />
Tou Minahasa khususnya etnis Tonsea merupakan salah satu puncak kebudayaan daerah yang turut membentuk kebudayaan Indonesia. Tou Minahasa -Tonsea memiliki potensi besar dari ke-tersediaan SDM. Dan yang harus dibangun adalah SDM yang ber-kualitas, berjati diri serta memiliki jiwa dan semangat untuk menata kembali pembangunan daerah Mi-nut disegala bidang agar bisa melahirkan kembali tokoh-tokoh besar yang memiliki komitmen yang tinggi dalam membangun daerah seperti Arnold Mononutu, A.A.Baramuli Mantan ketua DPA RI, Mayjen H.V.Worang dan lainnya.<br />
Peran budaya mutlak penting dan sangat mendasar didalam pembangunan. Para ahli pun melihat bahwa faktor budayalah yang determinan dalam keberha-silan suatu negara ataupun mas-yarakat. Kebudayaanlah yang membuat Eropa Barat, kemudian AS dan Jepang jauh melampaui Indonesia dan semua negara ber-kembang lainnya. Kebudaya-anlah yang membuat suku bangsa Minahasa pernah men-capai taraf relatif terunggul di antara etnis lain di Nusantara, dan hal inilah yang membuat sub etnis Tonsea pernah mencapai taraf relatif maju di antara semua sub etnis di Minahasa.<br />
Siap atau tidak, sejumlah tanta-ngan baru yang kian dahsyat se-dang menyongsong umat manu-sia, di mana orang Minahasa Utara merupakan bagian integralnya. Sekarang dan dimasa-masa mendatang manusia Minut harus menyadari eksistensinya dalam gejala globalisasi dan dengan segala permasalahannya. Demi-kian juga manusia Minut harus menghayati jatidirinya saat ini dan nanti. Sehubungan dengan itu peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi sasaran utama. Hidup persaingan di era globalisasi antara lain salah satunya merupakan tantangan dalam mensejahterakan masya-rakat.<br />
Egois, serakah, kurang peka dalam menghadapi era glo-balisasi tidak akan mengurangi nilai luhur budaya Mapalus orang Minut. Serba cepatnya peruba-han situasi menuntut daya cipta dan kreativitas yang sanggup melahirkan pengambilan keputu-san dalam berbagai situasi dan kondisi global.(ino)<br />
<br />
<br />
<br />
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div>
<table border="0" cellpadding="0" width="14">
<tbody>
<tr>
<td width="69%"><!--[if gte vml 1]><br />
                        <![endif]--><img src="file:///C:/DOCUME%7E1/ADMINI%7E1/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image001.gif" height="4" width="5" /></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<table border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="468">
<tbody>
<tr>
<td width="100%"><font size="4"><b>Seminar Seni Budaya Minut di Era Globalisasi<br />
&#8220;Kembalikan Semangat dan Jati Diri Tonsea&#8221;</b></font></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Dikutip dari <a href="http://www.mdopost.com/">mdopost.com</a> (ino) - 19 April 2008.</p>
<p>PELESTARIAN seni dan bu-daya dalam menampilkan jati diri Minahasa Utara (Minut) untuk menunjang program pemerin-tah, dikupas habis dalam semi-nar dan seni budaya Minut yang diselenggarakan di Eden Hall Manado Internasional School (MIS) Jumat (18/04) kemarin.<br />
Acara yang didukung sepe-nuhnya oleh Ketua Dewan Pem-bina Kebudayaan Nasional Yu-lisa Baramuli SH ini, menampil-kan para pembicara yang juga merupakan tokoh di Minut se-perti Dra Y.E.A Rompas Awuy MA, Drs Hengky Lengkong MSc dan Benny Matindas yang me-ngambil tema dalam seminar yakni ‘Seni dan Budaya Minut di Era Globalisasi&#8217;. Hadir juga Ka-dis Pariwisata dan Kebudayaan Minut Rita Rumokoy mewakili Pemkab Minut.<br />
Dalam paparan para pembi-cara, intinya mengajak dan mengingatkan pada para peserta, bagaimana merajut kembali se-mangat dan jati diri Tou Minahasa &#8220;Tonsea&#8221;, strategi kebudayaan dalam pembangunan daerah Minut di era globalisme serta ten-tang pewarisan dan pembinaan kebudayaan Mapalus di Minut bisa ditampilkan dengan nilai luhur budaya untuk menunjang pro-gram pemerintah di era globali-sasi. Dimana sekarang ini kebu-dayaan hanya dinilai dan diper-lakukan kurang memadai, maka hal ini akan mengancam keutuhan bangsa dan daerah. Kita menya-dari, betapa mahalnya harga yang harus dibayar jika kita alpa mem-bangun kebudayaan yang me-rupakan jati diri bangsa.<br />
Tou Minahasa khususnya etnis Tonsea merupakan salah satu puncak kebudayaan daerah yang turut membentuk kebudayaan Indonesia. Tou Minahasa -Tonsea memiliki potensi besar dari ke-tersediaan SDM. Dan yang harus dibangun adalah SDM yang ber-kualitas, berjati diri serta memiliki jiwa dan semangat untuk menata kembali pembangunan daerah Mi-nut disegala bidang agar bisa melahirkan kembali tokoh-tokoh besar yang memiliki komitmen yang tinggi dalam membangun daerah seperti Arnold Mononutu, A.A.Baramuli Mantan ketua DPA RI, Mayjen H.V.Worang dan lainnya.<br />
Peran budaya mutlak penting dan sangat mendasar didalam pembangunan. Para ahli pun melihat bahwa faktor budayalah yang determinan dalam keberha-silan suatu negara ataupun mas-yarakat. Kebudayaanlah yang membuat Eropa Barat, kemudian AS dan Jepang jauh melampaui Indonesia dan semua negara ber-kembang lainnya. Kebudaya-anlah yang membuat suku bangsa Minahasa pernah men-capai taraf relatif terunggul di antara etnis lain di Nusantara, dan hal inilah yang membuat sub etnis Tonsea pernah mencapai taraf relatif maju di antara semua sub etnis di Minahasa.<br />
Siap atau tidak, sejumlah tanta-ngan baru yang kian dahsyat se-dang menyongsong umat manu-sia, di mana orang Minahasa Utara merupakan bagian integralnya. Sekarang dan dimasa-masa mendatang manusia Minut harus menyadari eksistensinya dalam gejala globalisasi dan dengan segala permasalahannya. Demi-kian juga manusia Minut harus menghayati jatidirinya saat ini dan nanti. Sehubungan dengan itu peningkatan kualitas sumber daya manusia menjadi sasaran utama. Hidup persaingan di era globalisasi antara lain salah satunya merupakan tantangan dalam mensejahterakan masya-rakat.<br />
Egois, serakah, kurang peka dalam menghadapi era glo-balisasi tidak akan mengurangi nilai luhur budaya Mapalus orang Minut. Serba cepatnya peruba-han situasi menuntut daya cipta dan kreativitas yang sanggup melahirkan pengambilan keputu-san dalam berbagai situasi dan kondisi global.(ino)</p>
</div>
<div></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://tonsea.blog.com/2008/07/27/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
